Body Language dalam Perspektif Islam dan Aceh - Halimah Daily

Home Top Ad

Post Top Ad

Saturday, 31 December 2016

Body Language dalam Perspektif Islam dan Aceh

Dalam Islam dilarang menggunakan bahasa tubuh yang mengundang syahwat. Karena syahwat mendatangkan zina. Dan zina adalah perbuatan yang hina. Allah berfirman dalam QS. Al-Isra’ ayat 32 yang artinya: “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan jalan yang buruk“.

Allah juga berfirman:
“Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka cambuklah tiap-tiap satu dari keduanya dengan seratus kali cambukan. Dan janganlah kamu belas kasihan kepada keduanya didalam menjalankan (ketentuan) agama Allah yaitu jika kamu beriman kepada Allah dan hari akhir. Dan hendaklah (dalam melaksanakan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman “.[QS. An-Nur : 2]

Allah menghendaki muslim menjaga diri demi keselamatannya. Bukan untuk mengekangnya, mempersulitnya, atau mencelakakannya. Setiap larangan dan perintah Allah sudah pasti ada hikmahnya. Dan esensi ibadah bukanlah ketika kita melaksanakan perintah karena tahu manfaat dan hikmahnya, tetapi ketika kita tunduk patuh melaksanakan perintah bahkan ketika kita tidak tahu sama sekali alasannya kenapa tuhan memerintahkan demikian.

Abu Umamah berkata, ”Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Berilah jaminan padaku enam perkara, maka aku jamin bagi kalian surga. Jika salah seorang kalian berkata maka janganlah berdusta, dan jika diberi amanah janganlah berkhianat, dan jika dia berjanji janganlah menyelisihinya, dan tundukkanlah pandangan kalian, cegahlah tangan-tangan kalian (dari menyakiti orang lain), dan jagalah kemaluan kalian.”

Banyak sekali perbuatan zina terjadi karena pebuatan manusia yang mengundang syahwat. Baik disengaja maupun tidak disengaja. Sehingga alangkah lebih baik seorang muslim memperhatikan bahasa tubuhnya, sikap dan gerak geriknya agar tidak mengundang syahwat.
Untuk pencegahan kearah khalwat, perzinahan, dan tindakan amoral lainnya di Aceh, saat ini sedikit demi sedikit mulai bergerak kearah yang lebih baik.

Saya mengamati panggung-panggung pesta dalam acara apapun di Aceh, tidak ada perempuan yang bergoyang-goyang heboh dipanggung. Jika ada yang menyanyi, tetap saja gerakannya biasa, anggun tetapi santun, berjilbab juga, dan lagu-lagunya bukan lagu yang mengundang syahwat. Ini sangat berbeda dengan daerah lain yang basanya isi panggung kebanyakan perempuan-perempuan yang mengumbar aurat dan berpakaian serba mini. Di Aceh Alhamdulillah tidak demikian.

No comments:

Post a Comment

Postingan Terbaru

Hambatan Dalam Berkomunikasi

Halimahdaily.com - Ada beberapa hal yang dapat menjadi penghambat atau penghalang dalam proses berkomunikasi. Penghambat tersebut dikena...

Translate

Post Bottom Ad

Halaman