Konsep Waktu dalam Perspektif Islam dan Aceh - Halimah Daily

Home Top Ad

Post Top Ad

Saturday, 31 December 2016

Konsep Waktu dalam Perspektif Islam dan Aceh

Islam memerintahkan umat untuk menjalankan waktu sebaik-baiknya untuk beribadah kepada Allah. Karena Allah telah bersumpah demi masa, sesungguhnya manusia merugi. Sebagaimana Allah berfirman dalam Al-qur’an.

Dari ibn Abbas ra, ia berkata: Rasulullah Saw bersabda: “Manfaatkanlah lima perkara sebelumnya dating lima perkara yang lain: 

Masa mudamu sebelum datang masa tuamu – masa sehatmu sebelum dating masa sakitmu – masa luangmu sebelum masa sibukmu – masa kayamu sebelum masa miskinmu – masa hidupmu sebelum masa fakirmu (miskinmu) – dan masa hidupmu sebelum masa tuamu” (HR. al-Hakim dan al-Baiaqi).

Waktu didalam islam bukan sebatas angka-angka. Tetapi dapat memberi arti dan dapat membedakan satu ibadah dengan ibadah lainnya.

Waktu pagi, setelah fajar terbit dinamakan subuh. Disanalah kaum muslimin mengerjakan shalat subuh. Tetapi ketika mata hari baru saja terbit. Dilarang shalat apapun, karena pada zaman jahiliyah, kaum pagan menyembah dewa matahari ketika pagi matahari baru saja muncul. 

Ketika telah naik matahari setinggi tombak, maka masuklah waktu dhuha. Yang banyak keutamaan dalam ibadah duha. Dapat membuka pintu rezeki, dapat melapangkan segala jalan menuju kebaikan, dan sebagainya.

Kemudian masuk waktu siang. Setelah matahari sedikit bergelincir dari arah jam 12. Maka masuk waktu dzuhur. Begitu terus bergulir waktu demi waktu yang didalamnya terdapat ibadah ibadah wajib yang harus dilaksanakan. 

Begitu juga dengan bergulirnya waktu dalam hitungan bulan. Setiap bulan memiliki keutamaan yang berbeda-beda dari bulan-bulan yang lainnya. Seperti halnya Ramadhan. Yang memiliki julukan bulan yang lebih baik dari seribu bulan.

“Sesungguhnya sholat itu adalah kewajiban atas orang-orang mukmin yang tertentu waktu-waktunya” [QS Al-Nisa’ :103]

Barang siapa yang menjaga shalat lima waktu, maka shalat ini akan menjadi cahaya, menjadi penerang di hari akhirat. 

Namun barang siapa yang tidak menjaga shalat lima waktu, maka tidak akan shalat itu menolongnya di akhirat, tetapi orang tersebut akan diumpulkan bersama fir’aun di hari akhirat. Nauzubullah.

Waktu kita sudah banyak. Kita diberi peluang yang sama dengan orang-orang sukses, yaitu potensi dengan waktu 24 jam. Orang sukses punya 24 jam, kita juga sama.  

Ada isyarat dalam hadis Nabi diatas bahwa seorang muslim tidak boleh membuang-buang waktu untuk sesuatu yang tidak bermanfat Sedikitpun.

Tidak diciptakan jin dan manusia hanya untuk beribadah kepada Allah. Maka manusia seharusnya selalu menjaga waktu-waktunya dari sesuatu yang tidak bermanfaat. 

Karena tanda kaimanan seseorang adalah dari caranya menghindari hal yang tidak bermanfaat baginya. Artinya, orang yang benar-benar tingkat keimanannya sudah tinggi tidak akan punya waktu untuk dibuang-buang kepada hal yang tidak bermanfaat.

Menyia-nyiakan waktu, sama dengan menyia-nyiakan usia dan menyia-ntiakan kesempatan untuk mencari ilmu. Karena kunci sukses di dunia adalah ilmu. Kunci sukses di akhirat juga ilmu. 

Maka penting bagi seorang muslim untuk memburu ilmu pengetahuan agar sukses dunia dan akhirat dengan memaksimalkan fungsi waktu yang dimilikinya.



Di Aceh penggunaan waktu masih sama seperti daerah lain di Indonesia, akan tetapi masih sedikit lebih baik. Dapat kita lihat seperti waktu-waktu beribadah. Yang paling kentara adalah ketika shalat jum’at, dan shalat maghrib. 

Segala aktifitas dihentikan. Jual-beli benar-benar dihentikan. Toko-toko tutup. SPBU juga tutup. Sementara di kota-kota besar yang lain tidak demikian.

No comments:

Post a Comment

Postingan Terbaru

Hambatan Dalam Berkomunikasi

Halimahdaily.com - Ada beberapa hal yang dapat menjadi penghambat atau penghalang dalam proses berkomunikasi. Penghambat tersebut dikena...

Translate

Post Bottom Ad

Halaman