Paralanguage dalam Perspertif Islam dan Aceh - Halimah Daily

Home Top Ad

Post Top Ad

Saturday, 31 December 2016

Paralanguage dalam Perspertif Islam dan Aceh

Keragaman berbicara memberikan arti berbeda pada satu kalimat yang sama. Disinilah perannya parabahasa, sehingga pesan dapat memiliki arti yang berbeda tenrgantung kepada; tinggi rendahnya suara, keras-lembutnya, irama, naik-turunnya suara, juga termasuk sikap keraguan dalam pengucapannya. Tata-krama dalam memilih bahasa, juga ada aturannya dalam islam.

Kapan suara harus ditinggikan, kapan suara harus direndahkan, kepada siapa boleh meninggikan suara, kepada siapa harus melembutkan suara, semuanya tertera di dalam Al-Qur’an dan Hadis Nabi.

“ Dan tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah satu seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.”
[Qs. Al Israa’ :23]


Ayat ini menegaskan bahwa seorang muslim harus santun kepada orang tuanya. Karena mengucapkan ‘ah’ saja termasuk kata-kata yang bisa menyakiti orang tua. Apalagi jika menggunakan intonasi yang meninggi. 

Akan terkesan menantang, membentak, dan menghina kehormatan orang tua. Oleh karenanya Islam menghendaki ummatnya sopan santun kepada orang yang lebih tua, terutama orang tuanya sendiri.

Namun, kata ‘ah’ tidak akan menyakiti apabila dalam konteks yang berbeda. Tidak dalam konteks membantah. Misalnya, seorang ibu membelikan pakaian kesukaan anak perempuannya. 

Dengan manja sang anak mengatakan “ah ummi, tau aja kesukaan adek”. Dalam suasana ini tentu kata ‘ah’ berbeda maknanya. Itulah sebabnya setiap kata akan berbeda maknanya tergantung cara mengucapkannya, intonasinya, dan konteksnya.

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah, ‘Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil’.”
[Qs. Al Israa’ :24]

Masih sambungan ayat sebelumnya. Ayat ini memberikan contoh doa terbaik untuk kedua orang tua. Dan mengajarkan umat isalam untuk santun, patuh, bersikap lemah lembut sebagai penghormatan kepada jasa-jasa orang tuanya diwaktu ia kecil. Sebagai bukti penghormatan tersebut, maka seorang anak harus mendoakan orang tuanya.

Di Aceh memiliki beragam gaya berbicara di masing-masing daerahnya. Perbedaan intonasi berbicara selalu terjadi di berbagai daerah. Yang paling kentara adalah perbedaan penduduk pesisir dengan penduduk pegunungan. 

Bahasa yang halus, santun, lembut, biasanya digunakan oleh penduduk pegunungan, sedangkan penduduk pesisir kerap kali menggunakan bahasa kasar, dan dari intonasinya juga lebih tinggi.

Namun secara keseluruhan, adat Aceh tidak membenarkan berbicara keras atau kasar kepada orang tua atau yang di-tua-kan. Dari manapun asal mereka, apakah mereka orang pesisir atau orang pegunungan, tetap saja apabila berbicara kepada orang tua harus dengan nada santun.



Intonasi suara sangat penting dalam sebuah komunikasi. Ada sebuah penelitian yang menemukan bahwa intonasi suara berperan sebesar 37% dari pesan yang disampaikan. Sedagkan isi pesan hanya mendapat perhatian 7% sedangkan sisanya yang 56 % adalah bahasa tubuh. Karena parabahasa memiliki petunjuk kearah mana pesan akan dibawa. Sehingga isi pesan yang sesungguhnya akan diperoleh dari petunjuk yang ada.

No comments:

Post a Comment

Postingan Terbaru

Hambatan Dalam Berkomunikasi

Halimahdaily.com - Ada beberapa hal yang dapat menjadi penghambat atau penghalang dalam proses berkomunikasi. Penghambat tersebut dikena...

Translate

Post Bottom Ad

Halaman