Berbakat, Tapi Tak Terkenal. Pernahkah Kamu Mengalaminya? - Halimah Daily

Home Top Ad

Post Top Ad

Tuesday, 17 July 2018

Berbakat, Tapi Tak Terkenal. Pernahkah Kamu Mengalaminya?






Beruntung jika kita punya bakat. Namun, kita tetaplah manusia biasa. Kita pintar untuk sebuah urusan, tapi terkadang kita bodoh untuk urusan yang lain.

Seandainya kita semua punya kemampuan multy tasking, mungkin semua manusia akan terkenal dengan mudah.

Saya kenal beberapa teman yang berbakat dalam menulis. Ada yang sangat pandai menulis cerpen roman picisan, sampai-sampai bisa membuat siapapun BAPER saat membaca cerpennya.

Ada yang pintar mengolah kata-kata super DEWA, sampai-sampai siapapun meleleh membaca puisinya.

Mereka hanya menulis untuk kesenangannya sendiri. Mereka puas jika tulisannya dibaca satu-dua orang saja. Lalu mereka mengabadikan karya mereka di catatan medsos yang barangkali memang tak ada yang membacanya. 

Karya yang luarbiasa itu hanya bisa dibaca oleh diri sendiri? Tidak untuk dipublikasikan ? Ah, sayang sekali!

Jika ingin terkenal, satu skill saja tidak cukup. Kita harus punya banyak skill agar bisa mendongkrak bakat yang ada.

Jika kita memang tidak mampu berdiri sendirian untuk mempromosikan karya-karya milik kita yang amat berharga itu, setidaknya kita punya teman dekat, sahabat, atau partner yang berniat mengekspose karya kita agar dikenal orang.

Kenapa kita harus terkenal?


Beberapa teman yang berbakat tadi saya tanyai satu persatu. Maukah mereka berjuang sedikit lebih keras untuk mempromosikan bakat yang mereka punya agar mereka terkenal. Namun, saya malah balik ditanya. “Untuk apa terkenal?”

Ah, pertanyaan ini membuat hatiku miris. Ingin rasanya balik bertanya “Memangnya kamu tidak mau terkenal?”.

Tapi, bukan itu persoalannya. Saya tidak ingin memaksa siapapun untuk menjadi terkenal. Saya hanya ingin orang-orang berbakat terus maju kebarisan paling depan. Jangan tersembunyi dibelakang. Itu saja.

Baiklah, kenapa kita harus terkenal? Sudah jelas jawabannya. Kita harus terkenal karena kita berharga. Jangan hargai diri kita dengan label yang murah sejak awal. Karena label murah tidak bisa mengangkat martabatmu sampai kapanpun!

Pernah menonton movie yang berjudul Big Eye? Filem ini menceritakan kisah seorang seniman berbakat yang terkurung dibalik ketidakberdayaannya.

Dia adalah pelukis wanita. Seorang janda beranak satu. Tidak ada hal lain yang dia suka selain menulis wajah anaknya dengan mata yang besar.

Dia hanya berdiri dipinggiran jalan untuk menjual karyanya. Sayangnya, dia hanya menjual lukisannya seharga dua dollar!

Ada seorang lelaki yang terusmemperhatikannya saat melukis dijalanan. Lelaki itu melihat lukisannya yang tidak biasa, menurutnya seni melukis si wanita ini boleh juga. Tapi kenapa harga lukisannya hanya 2 dollar?

Ada kutipan yang sangat saya sukai dari film ini. kurang lebih bunyinya seperti ini :

"Jangan terlalu rendah menghargai karya mu sendiri"

ketika menonton itu, saya juga bergumam. ya, kita harus membandrol mahal setiap karya-karya yang kita ciptakan!

Sejelek apapun, karya kita tetaplah berharga. Kembali kepada kasus teman-teman yang berbakat menulis tadi, saya berharap mereka bertemu jalannya untuk sukses menjadi penulis. 


No comments:

Post a Comment

Postingan Terbaru

Hambatan Dalam Berkomunikasi

Halimahdaily.com - Pernahkah kamu merasa jengkel sendiri karena orang yang kamu ajak bicara tidak nyambung? Atau sebaliknya, kamu yang m...

Translate

Post Bottom Ad

Halaman