Cerpen : Little Psychopath - Halimah Daily

Home Top Ad

Post Top Ad

Saturday, 4 August 2018

Cerpen : Little Psychopath




Harusnya aku tak mendengarkan celotehannya yang begitu panjang. Ini membuatku tak bisa menulis.

Sejak ku katakan padanya bahwa aku sedang menulis novel, dia selalu datang kerumahku setiap hari. Bercerita panjang lebar, mempertanyakan segala hal yang tidak penting, mengajak diskusi tentang topic murahan, dan selalu membuntutiku kemanapun aku pergi. Memangnya dia ini siapa? Sejak kapan kami dekat? Dia pikir aku ini temannya?

Ah, aku benci pengganggu seperti dia. Aku tidak suka teman macam dia. Lebih baik tak usah ada teman sama sekali. Daripada harus diganggu terus seperti ini.

Padahal, deadline tulisanku tinggal seminggu lagi. Tapi, anak itu selalu datang menggangguku. Ada apa dengan dia?

Walau aku tidak terbiasa mengusir orang, kali ini harus kulakukan. Aku harus membuatnya menjauh. Tapi, bagaimana cara mengusirnya. Anak ini terus lengket padaku seperti perangko.

“Fae, kamu tidak pulang?” Cih. Ucapan apa barusan? Apa ucapan itu cocok untuk mengusir orang?

Wajah anak itu memerah. Dia sepertinya tidak pernah diperlakukan kasar. Anak manja.

“Kakak keberatan aku disini?” Matanya berkata-kaca. Bibirnya dimanyun-manyunkan. Dasar gadis cengeng!

“Maaf. Fae, kita tidak pernah berteman. Jadi, pulanglah”.

“Hiks, Kak Aldo jahat!”

“AAAA.. MAMAAA…!!”

Dia malah menangis. Sebenarnya aku tak tega, tapi aku senang mendengar tangisannya. Itu tandanya dia akan membenciku dan tidak akan pernah menggangguku lagi, kan?

Eh, tapi…

“Aldo, apa yang kamu lakukan? Fae Cuma ingin berteman denganmu!”

Tuh kan, ibunya datang. Sudah kuduga.

“Aku tidak suka bermain, tante. Suruh Fae mencari teman lain. Aku suka sendirian”

Jawabanku sadis? Tentu saja. Aku sudah menyiapkan kata-kata itu untuk jaga-jaga.

“Kamu memang kejam, ya? Pantas saja rumahmu sepi, seperti rumah hantu. Tinggal saja disitu sendiri, sampai kamu mati!”

Wah tante Zia ternyata lebih sadis!

“Terimakasih atas perhatiannya tante, aku mau tutup gerbangnya kalau tante sudah selesai”.

Wah, ternyata aku bisa sadis juga. Senangnya!

“Anak sialan!” Gerutu tante Zia.

Akhirnya, bocah pengganggu itu sudah pergi. Begini lebih nyaman. Tak ada suara apapun kecuali bunyi keyboard laptop dan hembusan nafasku.

Dari dulu, aku memang selalu sendirian. Aku menulis novel juga karena kesepian. Tapi, aku tidak butuh teman. Rasanya duniaku akan hancur jika ada teman yang bisanya hanya mengganggu kehidupanku yang tenang.

Guk Guk! Guk Guk Guk!

Anjing penjaga rumahku menggonggong terus dari tadi. Dia terus-terusan menggonggong kearah rumah Fae. Apa anjing itu belum terbiasa dengan tetangga barunya?

“Boy, berhentilah menggonggong. Ini sudah malam!” Teriakku dari jendela kamar. Anjing itu seketika berhenti menggonggong.

BUKK! BUK! BUKKK!

AIK.. AIKK.. AIK.. AIK..!!

Anjingku? 

Boy!

Aku berlari sekencang-kencangnya menuruni anak tangga. Aku harus menyelamatkan Boy, temanku satu-satunya di rumah ini. Sepertinya ada yang menyakitinya. Akan kuhabisi, siapapun itu!

Auuuukk! Guk! GUk! GUk!

Boy terus melonglong kearah rumah Fae. Aku terkejut melihat sosok itu di depan rumahku.

“Fae?!”

Di sekitar Boy sudah penuh dengan beberapa kepalan batu. Sedangkan Fae ada disana dengan menjinjing keresek. Keresek berisi batu? Untuk melempari Boy?

“Kamu yang melempari Boy?”

“Bukan aku, enak saja kakak menuduhku!”

“lalu, itu apa dikepalan tanganmu, dan di pelastik itu?”

“Batu” Jawabnya ketus.

Gadis sialan! Sudah jelas dia pelakunya!

“Fae, Kubunuh kau!”

Syutt! Sekepalan batu melayang. Hampir saja kena kepalaku. Untunglah aku menghindar.

“Awas kau, Psikopat cilik!” Aku mendekati Fae yang terlihat menantangku.

Buk! Bak! Buk! Bocah itu menyerang dengan lemparannya yang tepat sasaran. Meskipun aku mencoba menghindar. Fae jago memprediksi gerakan ku. Ku akui, dia gadis kecil yang berbahaya.

Kenapa dia tetap diam ditempat? Dia tidak takut aku mendekatinya? Ini mencurigakan!

Saat langkahku semakin dekat. Fae mengeluarkan pisau dari saku celana treningnya. Pisau lipat bergerigi? Dari mana dia bisa mendapatkan pisau yang biasa dipakai pereman seperti itu?

“Fae, kau gila?” Langkahku terhenti.

“Tidak, aku hanya melindungi diriku!”

Kini gadis itu yang maju, dia mengacungkan pisaunya yang berkilau diterpa cahaya lampu taman.

“Kamu tidak bawa apa-apa? Aku kira kita akan duel senjata tajam malam ini. Sayang sekali!”. Suara Fae yang biasanya lembut kini terdengar sangar. Dia tampak serius. Bagaimana kalau dia psikopat sungguhan?

“Fae! Apa ibumu tidak ada? Kenapa kamu berkeliaran malam-malam dan mengganggu ketenangan tetanggamu sendiri?” Aku mengululur waktu.

Lihatlah. Gadis itu seperti sudah siap bertarung, sedangkan aku tidak dalam posisi siap berkelahi. Kaki telanjang tanpa sandal, baju kaos tipis dan celana pendek. Posisiku sangat berbahaya.

Wwwuuut! Wuuut! 

Fae menyabet dengan sembarang, dia menyerang dengan brutal. Aku tak bisa apa-apa kecuali menghindar. Sial, aku bisa mati jika diserang begini.

“Hentikan Fae! Atau kupanggil ibumu!”

“Hahaha, kau takut, hah?”

Fae terus menyerang, sementara aku masih belum mendapat celah untuk bisa melawannya.

“Tante zia, lihat anakmu menggila!”

“Ahahaha. Panggil saja tante Zia mu itu. Dia tidak ada.”

Wwwuut! Wwwuuttt!

“Ibumu sedang pergi?”

“Dia juga sudah mati. Ahahaha”

DEG! Benarkah?

Kresssh!

Sabetan pisau mengenai lengan ku, Fae tak bisa diprediksi. Dibalik badannya yang mungil ternyata tersimpan kekuatan yang tak terduga.

Kreeessssh!

Bukkk! Bukkk!

Fae menyabet, menendang, dan memukul ku dengan brutal.

AAAAAAAArrrggghhh!

Kreeessssh!

Bak! Buuk!

"AAAAAAAArrrggghhh! Faeee, hentikan!"

“Ahahahaha. Senangnya bermain dengan kakak. Ahahaha”

Berkali-kali kucoba menendang pisau dari genggaman tangannya, tapi dia sangat kuat. Aku menyesal tak pernah latihan bela diri. Menghadapi bocah saja aku tak becus.

Aku mandi darah. Fae terlihat gembira. Sepertinya aku akan mati ditangannya.

Sepinya malam ini terasa mengerikan. Biasanya aku suka kesunyian, baru kali ini aku membencinya. Beginikah resiko tinggal sendirian dirumah yang jauh dari keramaian? Kenapa di sekitar sini hanya ada dua rumah? Andai saja ada rumah lain…

Aku limbung. Sepertinya nyawaku tidak lama lagi akan melayang.

Kressssh! Kresssh! Kreeesssh! Sabetan itu tak juga berhenti meski aku telah ambruk.

Dalam sekarat, aku merasakan tubuh mungil memelukku sambil tertawa-tawa. Rasanya seperti di antar keneraka dengan paksa. Fae… Kau… Ternyata…


Cerpen lain ---> Bayi Monster




No comments:

Post a Comment

Postingan Terbaru

Bagaimana Kita Mengelola Kemarahan Agar Menjadi Marah yang Elegant?

Halimahdaily.com - Saat kita sedang marah, tanpa berkata-kata pun, akan terlihat dari body langage kita. Sebab, automatic neuro system ...

Translate

Post Bottom Ad

Halaman