Introvert Love, Gonna be Wrong! - Halimah Daily

Home Top Ad

Post Top Ad

Saturday, 19 January 2019

Introvert Love, Gonna be Wrong!


Halimahdaily.com - Pernahkah kamu jatuh cinta pada orang yang berkepribadian introvert? Bagaimana rasanya? Jenuh? Bosan? Atau menyenangkan? 


Apapun itu, kita berhak mengatakannya sebagai kenangan indah atau bahkan kenangan buruk. Semuanya tergantung cara kita mengambil persepsi. Tidak ada hal yang benar-benar buruk di dunia ini. Termasuk juga hal-hal indah, jangan cepat tertipu.

Saya sendiri adalah orang yang introvert. Mungkin beberapa orang merasa tidak cukup cocok bersama saya. Saya terkadang menyebalkan, sulit diajak party, terlalu suka menyendiri, garing, dan canggung.

Bagi orang ekstrovert, saya mungkin terlihat norak. Sebaliknya, saya melihat orang-orang ekstrovert terlalu hebat. Tak sebanding dengan saya.

Orang introvert seperti saya sangat jarang menjalin hubungan dengan harmonis. Selalu ada kesalahan. Selalu ada kegagalan. Itulah sebabnya tidak ada cerita romance yang benar-benar indah dalam hidup saya.

Akhir-akhir ini saya bertemu seseorang yang hampir mirip sikap dan perilakunya dengan saya. 99,9 persen sangat mirip. Kami pendiam, cuek, dan tidak banyak melakukan hal-hal hebat. Namun 1 persen yang membedakan kami adalah cara kami mengekspresikan diri. Saya lebih ekspresif secara verbal, sedangkan dia lebih ekspresif secara nonverbal.

Suatu hari, saya benar-benar merasa kesal padanya. Sebab kami telah satu tahun menjalin hubungan special (anggap saja begitu). Tapi tak sehari pun dia pernah mengungkapkan perasaannya dengan serius. Setiap kali saya bertanya “apa kamu mencintai ku?” dia hanya menjawab “entah”. Seingat saya, di awal-awal kami berkencan, dia pernah menyatakan perasaannya secara ambigu. Sepertinya terlalu sulit baginya untuk sekedar bilang ‘sayang’ padaku.

Apakah dua orang introvert bisa menjaga hubungan mereka sampai langgeng? Entahlah. Yang saya tahu, saya selalu merasa lelah pada sikap dan perilakunya, di waktu yang sama saya memahami apa yang tidak dia katakan, karena kami mirip.

Saya bertahan dengan ketidakpastian ini sebab saya melihat ada cahaya di matanya ketika ia melihat wajah saya. Meski dia tak pernah mengatakan apapun, saya merasa kehangatan merasuki relung hati saya ketika dia bersama saya.  

Beberapa teman curhat saya mengatakan bahwa dia terlalu aneh. Tapi, saya sendiri justru merasakan bahwa saya lah yang aneh. Menyukai nya saja sudah aneh. Apalagi bertahan selama setahun untuk tetap bersamanya. Bukankah itu sangat aneh?

Entah dia yang terlalu miskin kata-kata, sehingga tak mampu untuk ‘say good by ‘saat bosan dengan saya. Dan tak mampu berkata ‘I love you’ saat cintanya menggebu. 

Entah saya yang buta karena cinta. Sehingga kesalahan apapun yang dia lakukan tetap saya maafkan. Serta sikap acuh tak acuhnya saya artikan sebagai 'penjagaan diri' dari cinta yang membodohi. Entahlah, saya selalu membelanya.

Entah karena apa, kami tetap bersama.

Jika suatu hari nanti saya pergi meninggalkannya, bukan karena saya berhenti mencintainya. Tetapi karena saya lelah mengejar kepastian cinta yang tak kunjung saya terima.


No comments:

Postingan Terbaru

Hey, Kok Sedih? Perlu Sedikit Motivasi Untuk Move On?

Halimahdaily.com - Bukan begini cara menjalani hidup. Membuang banyak waktu dengan bertanya 'apa salahku?'. Tak perlu tanyakan i...

Translate

Post Bottom Ad

Halaman