Kehilangan Kekasih Semu - Halimah Daily

Home Top Ad

Post Top Ad

Monday, 25 March 2019

Kehilangan Kekasih Semu


Halimahdaily.com -Saya pernah merasa takut ditinggalkan, takut sendirian, takut dilupakan oleh seorang manusia yang kepadanya kusematkan seluruh cinta dengan polosnya. Padahal dia pun bukan siapa-siapa. Dia bahkan bisa dikatakan masih mencari jati diri, masih kesana-kemari mencari motivasi untuk bertahan hidup dalam dunia fana ini.

Datang gadis lemah ini tiba-tiba menyandarkan hidup padanya. Seolah-olah dia super hero yang akan jadi pahlawan kapan pun dan dimanapun. Pada kenyataannya, sang super hero hanya menjadi pahlawan sesaat. Yang datang menolong untuk bersenang-senang. Ketika dia bosan, dia membiarkan gadis ini kesusahan. Dia sama sekali tak merasa harus menolong, sebab gadis ini bukan siapa-siapanya.

Lagian, gadis ini minta tolong terus-terusan tanpa memberi apa-apa. Memang ada yang geratisan di dunia ini?

Begitulah manusia. Selalu ingin dibantu, ingin ditemani, ingin ada tempat bersandar, ingin menjadi orang pertama yang diingat. Dan lain-lain sebagainya. Padahal, kalau minta dibantu terus-terusan sama manusia, yang diminta tolong bisa jadi merasa kesal dan keberatan.

Itulah yang terlambat disadari oleh gadis lemah ini. Dia baru sadar saat kecewanya sudah menggunung, dia baru sadar ketika ditinggal sendirian tanpa kata-kata apapun yang bisa dipegangnya sebagai jaminan bahwa mereka akan berjumpa di masadepan atau dipelaminan. Tidak ada kata-kata seperti itu. Dia merasa dicampakkan seolah sampah yang tiada berarti. Kasihan sekali.

Gadis itu adalah saya. Mengingat bagaimana saya dulu, ketika tidak kuasa menahan cinta. Rasanya konyol dan bodoh sekali. Tapi bagaimana lagi, saya sudah terlanjur begitu. Apapun yang saya lakukan sekarang, tidak merubah fakta bahwa cinta yang saya miliki pernah bermetamorfosis menjadi nafsu.

Sekarang baru saya sadari, betapa egoisnya diri. Mengotori cinta yang sebelumnya suci, semakin lama semakin lupa diri.

Bersyukur sekali, jerat itu telah lepas. Patah hati membuat saya belajar banyak hal. Termasuk belajar untuk meluruskan hati. Jangan-jangan cinta saya menjadi murahan seperti itu karena keliru menafsirkan arti cinta. Karena saya lupa cinta yang suci harusnya seperti apa. Dan karena saya jauh dari yang maha memiliki cinta.

Kalau dipikir-pikir. Apa yang dia berikan selain rasa sedih dan rasa sesal? Apakah lebih banyak dia membuatku tersenyum atau menangis?

Jawabannya jelas. Cintaku ternyata semu. Bahagiaku cuma sesaat. Sisanya hanya rengekan, tangisan, dan bujukan. ‘tolong tetaplah bersamaku’. Padahal orang yang dimohon sudah tidak mau.

Sekarang sudah tidak kecewa lagi. Ditinggal pergi oleh orang yang belum hallal menjadi pendamping rasanya tidak terlalu sakit.

Saya membayangngkan seandainya dia telah menjadi suami saya, lantas dia meninggalkan saya dan tidak mau bertanggung jawab untuk membesarkan anak-anak saya. Dia menghilang tanpa jejak. 

Daripada begitu, mendingan saya kehilangan dia saat ini. Saat belum terlalu jauh saya mencintainya.
Akhirnya, kini saya hanya berterimakasih kepada-Nya. Terimakasih sebesar-besarnya. Beruntung sekali saya ini. Beruntung sekali bisa terlepas deri jerat cinta yang membahayakan diri. Saya hanya kehilangan kekasih semu. Apa ruginya?

Justru saya beruntung sebab rasa kehilangan ini mengajarkan saya untuk dekat dengan kekasih abadi. Semoga saya tidak ditinggalkan oleh-Nya. Jika ditinggalkan, maka celakalah saya selamanya.


No comments:

Postingan Terbaru

Hey, Kok Sedih? Perlu Sedikit Motivasi Untuk Move On?

Halimahdaily.com - Bukan begini cara menjalani hidup. Membuang banyak waktu dengan bertanya 'apa salahku?'. Tak perlu tanyakan i...

Translate

Post Bottom Ad

Halaman