Sepotong Rindu Untuk Ibu - Halimah Daily

Home Top Ad

Post Top Ad

Thursday, 4 April 2019

Sepotong Rindu Untuk Ibu


Halimahdaily.com - Kata orang, aku adalah anak kesayangan ayah. Kurasa memang benar. Tapi, kurasa dulu aku juga anak kesayangan ibu, tepatnya ketika masih bayi. Dia pasti memperlakukanku dengan istimewa. Buktinya, aku hidup diberkahi otak yang berfungsi cukup baik. Itu semua berkat ASI esklusif dan penjagaannya siang-malam.


Ketika aku tumbuh diusia kanak-kanak, posisiku digantikan bayi-bayi lain yang lahir setelahku. Saat aku menangis, ada bayi lain di gendongan ibu, maka ayahkulah satu-satunya milikku. Wajar jika aku jatuh ke pelukan ayah. Tidak ada tempat lain untuk mengadu.

Dimasa remajaku, ibu masih melahirkan bayi-bayi lagi sambil mengurusi adik-adik yang lain. Meski cemburu, aku ikut senang memiliki saudara kandung yang banyak.

Masalahnya, aku lahir pertama. Akulah yang bertaggungjawab jika adikku menangis. Akulah yang salah jika tak bisa membuat adikku tertidur di ayunan saat ibu memasak. Akulah yang salah jika mainanku direbut, lalu kami menangis bersama. Orang yang selalu mengatakan aku salah adalah ibu. Jadinya aku merasa semuanya memang salahku.

Setelah dewasa. Aku kembali mendengar cerita yang hampir sama. Adik yang wajah dan perangainya sangat mirip denganku, mengalami hal sama sepertiku, dulu. Dia orang yang paling sering dimarahi ibu, dia orang yang paling sering diberi hukuman, dan dia juga orang yang paling sering merelakan baju-baju kesayangannya, mainan-mainan kesayangannya untuk adik yang lain.

Pada akhirnya, hanya ayah yang membelanya dirumah. Dia juga mendapati julukan ‘anak kesayangan ayah’. Setidaknya anak kesayangan ayah hanya kami berdua. Jadi, ayah pasti bisa adil pada kami berdua, bukan?

Sebutan anak kesayangan ayah, bagiku terdengar seperti tuduhan bahwa ayah tidak menyayangi anak yang lain. Terlebih lagi jika kata-kata itu terucap dari ibu. Aku merasa kesal, entah mengapa.

Aku jadi berpikir. Apakah semua ayah-ibu di dunia melakukan hal seperti itu? Apa mereka harus memilih anak mana yang harus disayang ayah, dan anak mana yang harus disayang ibu?

Padahal, kami tidak suka sebutan ‘anak kesayangan ayah’ atau ‘anak kesayangan ibu’. Kami ingin disayangi dua-duanya. Kami tidak perlu menjadi anak emas salah satu dari mereka, sungguh!

Tapi, terimakasih untuk ayah yang mengerti bahwa aku dan adik nomor empat tidak punya hero selain dirinya. Dan terimakasih, sampai hari ini, ayah satu-satunya hero kami. Tapi bagaimanapun, kami merasa sepi. Kami rindu pelukan hangat ibu. Andai ibu mengerti, kami sungguh ingin disayang ibu juga.

No comments:

Postingan Terbaru

Hey, Kok Sedih? Perlu Sedikit Motivasi Untuk Move On?

Halimahdaily.com - Bukan begini cara menjalani hidup. Membuang banyak waktu dengan bertanya 'apa salahku?'. Tak perlu tanyakan i...

Translate

Post Bottom Ad

Halaman