Kisah Nabi Isma’il Alaihissalam - Halimah Daily

Home Top Ad

Post Top Ad

Saturday, 28 May 2016

Kisah Nabi Isma’il Alaihissalam

Nabi Isma’il AS. (sekitar 1911-1779 SM)  adalah putra Nabi Ibrahim AS. dari istri keduanya bernama Hajar.Sedangkan istri pertama Nabi Ibrahim yang bernama Sarah tidak memberikan keturunan dalam waktu yang lama. Sehingga, Sarah khawatir tidak bisa memiliki keturunan, lalu menikahkan Hajar dengan suaminya, Ibrahim. Sebelumya siti Hajar adalah budak yang dihadiahkan oleh penguasa mesir kepada Ibrahim. Kelak sarah dikarunai putera saat Ibrahim telah berusia seratus tahun lebih. Lahirlah Nabi Ishaq bin Ibrahim, adik tirinya.

Kisah rumah tangga Ibrahim dengan siti Hajar menurut versi yahudi-kristen sangat jauh berbeda dari versi islam. Dimana menurut yahudi-kristen siti Hajar diusir dari rumah oleh Sarah karena cemburu pada istri muda Ibrahim itu yang telah dikaruniai seorang putra sedangkan ia dalam keadaan mandul. Namum versi islam menceritakan sosok Sarah yang dikenal sebagai wanita beriman dan salih, tidak mungin berperilaku sedemikian keji.

Nabi Ibrahim mengasingkan Siti Hajar jauh dari rumah adalah semata-mata karena perintah Allah s.w.t. Untuk menguji keimanan Ibrahim, yang kala itu sangat bahagia telah dikaruniai keturunan. Bukan karena sarah yang mengusirnya.

Allah s.w.t menjelaskan tentang kemuliaan Sarah dalam Al-Qur’an dan memberikan pujian kepada kedua istri nabi Ibrahim dalam firmannya :

“Rahmat Allah dan keberkatan-Nya dicurahkan atas kamu, hai ahlulbait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji dan maha Pemurah.” (Qs. Hud : 73)

Allh saja memuliakan kedua wanita suci tersebut dengan mencurahkan rahmat dan berkat-Nya. Bagaimana mungkin manusia malah berprasangka buruk terhadap istri-istri Nabi?
Sungguh keji rasanya apabila kita percaya pada dongeng israiliyat yang mengatakan betapa bengisnya sosok ibunda Sarah.

Mungkin rasa kaget yang dirasakan Sarah bahkan lebih besar  daripada yang dirasakan oleh Hajar. Ketika Ibrahim menyuruh Hajar dan putranya yang masih berumur dua tahun itu pergi bersamanya. “Engkau hendak pergi kemana hai Ibrahim?” mungkin justru sarah yang melontarkan pertanyaan itu kepada Ibrahim daripada Hajar. Namun karena Ibrahim diam saja, maka kedua istrinyapun diam[1].

Putera yang  dinantikan

Isma’il dilahirkan sekitar tahun 1911 SM, di Palestina. Namun, saat usianya masih balita, Ibrahim membawa Hajar dan Isma’il kecil pindah (atas perintah Allah) kesebuah tempat didekat Bait Allah, yakni Mekkah.

Sebelumnya, kita simak kisah penantian Ibrahim yang penulis ambil dari berbagai sumber. Inilah kisah kelahiran Nabi Isma’il alaihissalam:

Dalam penantian panjangnya. Ibrahim tak berputusasa untuk memanjatkan do’a kepada Allah. Dzat yang diyakininya Maha mengabulkan do’a.

“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.” (Qs. Ash-Shaffat ; 100)

Begitu yakinnya Ibrahim meminta meskipun usianya tidak lagi muda. Saat itu usianya sudah delapan puluh tahun lebih. Namun Ibrahim yakin dan percaya Allah akan mengabulkan do’anya. Ibrahim adalah sosok yang optimis dalam berdo’a. tak ada keraguan sedikitpun didadanya, usia senja tak menjadikannya surut dalam meminta keturunan. Sebab, ia tahu bahwa risalah ilahiyah harus diwariskan. Maka pada siapakah misi kenabiannya akan diwariskan jika ia sendiri tak mempunyai keturunan?

sehingga Allah menjawab do’anya itu. Diberikan kabar gembira bagi Ibrahim dengan kehadiran putera yang selama ini didambakannya. Dalam al-Qur’an allah berfirman :

”maka kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang sangat sabar.” (Qs. Ash-Shaffat :101)

Anak yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah Isma’il, bukan Ishak. Dalam kitab Bani Israil dikisahkan bahwa Isma’il dilahirkan ketika Ibrahim berusia 86 tahun, sedangkan Ishak dilahirkan ketika Ibrahim berusia seratus tahun lebih. Dengan demikian Isma’il adalah anak Ibrahim yang paling tua, yang disembelih.[2]

Ibrahim, dengan usianya yang sudah sangat tua (ada yang mengatakan saat itu usianya 86 tahun, da nada juga yang mengatakan usianya sudah 99 tahun) sangat gembira atas kelahiran putra pertamanya itu. Kelahiran putera pertama pada usia setua itu tentu merupakan penantian yang sangat panjang. Sehingga diberi nama anak itu isma’il yang artinya “Allah telah mendengar” sebagai ungkapan syukur. Seakan Ibrahim tengah mengatakan “Allah mendengar do’aku”.

Isma’il benar-benar anugerah terindah bagi Ibrahim kala itu. Sehingga kelak Allah mengujinya dengan menggunakan Isma’il sebagai bukti kecintaan Ibrahim kepada-Nya. Dengan keimanan dan kesalinannya, Ibrahim menuruti perintah Allah.

Cinta Ibrahim kepada Isma’il lebih besar, lebih lembut, dan lebih agung daripada cinta para ayah kepada anakknya melebihi kapanpun. Meskipun demikian, Ibrahim tetaplah hamba Allah yang senantiasa berserah diri kepada-Nya. Sebesar apapun cintanya kepada Isma’il, tentulah tidak mengalahkan cintanya kepada Ilahi.

Lembah tandus itu adalah makkah

Setelah kabar gembira kelahiran putera pertamanya, tak lama kemudian Allah memisahkan ayah dan anak tersebut. Allah memerintahkan Ibrahim membawa pergi Hajar berserta putrera kesayangannya itu ke suatu tempat yang Ibrahim sendiri tidak pernah membayangkannya. Sebuah lembah tandus, tak berpenghuni, tak ada kehidupan didalamnya. Tak ada sesiapa yang dapat diandalkan Siti Hajar untuk meminta pertolongan kecuali Allah semata.

Dalam usianya yang masih sangat balita, sekitar dua tahun. Isma’il telah di tempah oleh Allah untuk menjadi insan pilihan-Nya dengan memisahkannya dari ayah yang sangat mencintainya, di lembah sunyi nan tandus tak bertuan, kelak disanalah Isma’il tumbuh menjadi remaja yang sabar dan tawaqal. Dan disanalah Nabi Isma’il hidup dan menyebarkan Risalah Ilahiyah kepada penduduk Makkah hingga menjelang wafatnya.

Tibalah mereka dilembah tandus. Tempat itu adalah tanah haram Allah, yakni mekkah. Pada saat itu masih merupakan lahan yang tandus. Tak seorangpun pernah tinggal disana. Memikirkannya saja pun tidak. Disana tidak ada sumber air, tidak ada pohon yang tumbuh. Oleh karena itu tak tampak ada burung yang terbang didaerah tersebut. Bahkan semut pun tak ada.

Hajar memegang erat-erat pakaian Ibrahim a.s tatkala beliau hendak meninggalkan dirinya dan puteranya, seraya bertanya-tanya.

“Ibrahim, kemana engkau akan meninggalkan kami dilembah yang tak berpenghuni ini, dimana tidak ada seorangpun teman atau apapun juga?”
“Ibrahim kemana engkau akan meninggalkan kami?”
“Ibrahim kemaana engkau akan pergi?”

Hajar berulangkali mengucapkannya namun Ibrahim hanya diam membisu. Ibrahim tetap berjalan tanpa melihat kebelakang dan menghiraukan pertanyaan Hajar. Sebagai manusia biasa, Ibrahim tentu merasakan sedih yang teramat sagat. Meninggalkan isteri berserta anak tercinta yang masih bayi dilembah tandus tak berpenghuni tentulah merupakan ujian yang sagat berat baginya.

Setelah Ibrahim berjalan agak jauh dan tidak sekalipun menjawab pertanyaannya, Hajar mulai gusar. Untuk itu, Hajar mengajukan pertanyaan pamungkasnya agar hilang kecemasannya.

“Apakah Allah memerintahkanmu berbuat demikian?”

Setelah mendengar pertanyaan ini, Ibrahim berhenti dan mengiyakan pertanyaan tersebut. Bahwa Allahlah yang memerintahkannya meninggalkan Hajar dan Isma’il di lembah ini.
Mendengar jawaban tersebut. Hajar hanya punya satu pertanyaan tambahan.

“Wahai Ibrahim, kepada siapa engkau meninggalkan kami?”

“Aku menitipkanmu pada perlindungan Allah” jawab Ibrahim.

Tuntaslah sudah. Kini semuanya telah jelas bagi Hajar. Dua jawaban itu cukup mewakili untuk menjawab segala pertanyaan-pertanyaan tak terjawab yang sebelumnya memenuhi benaknya. Dengan keimanan dan kepatuhan Hajar yang teguh kepada Allah, Hajar memberikan jawaban terahir sekaligus salam perpisahan.

“Aku ridha bersama Allah” ucapnya lirih. Bersamaan dengan itu,sirna sudah segala kekhawatiran dan kengerian yang membayanginya. Sekeliling lembah tandus itu tak lagi mengerikan apabila Allah yang menjaganya.

Lalu Ibrahim terus berjalan menjauh dari makkah. Sementara Hajar dan Isma’il tertinggal jauh dibelakang. Ketika Ibrahim telah sangat jauh, ia berbalik kebelakang menghadap kearah mekkah lalu mendo’akan keluarga kecilnya yang ia tinggalkan disana. Dalam do’anya ia berkata,

“Ya tuhan kami sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku dilembah yang tak mempunyai tanam-tanaman didekat rumah engkau (baitullah) yang dihormati. Ya tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebahagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur” (Qs. Ibrahim : 37)

Ibrahim menitipkan Hajar dan Isma’il kepada Allah, maka ia harus tawakal pada ketentuannya. Sungguah Allah maha tahu apa hikmah dari pengasingan tersebut. Dan Ibrahim tidak banyak bertanya, ia hanya patuh pada perintah-Nya. Begitulah seharusnya orang-orang salih. Memiliki kepatuhan yang totalitas kepada Allah. Walaupun tidak tahu apa hikmah dibalik perintah tersebut.

Perpisahan yang memilukan itu ternyata bukan awal dari ujian Allah terhadap hambanya yang saleh dan selalu patuh pada perintahnya itu, Ibrahim. Sebelum ini, Allah telah banyak menguji Ibrahim dengan ujian-ujian yang berat. Dan selalu terbukti bahwa Ibrahim itu saleh dan bijak. Ibrahim diuji di Ur, ketika ia berhadapan dengan Naram-Sin dan api panas. Ibrahim di uji di Haran, ketika ia harus meninggalkan ayahnya. Ibrahim pernah diuji di mesir, ketika Fir’aun terpikat oleh kecantikan sarah dan mengambilnya dari Ibrahim, dan Ibrahim diuji lagi oleh Allah di Palestina, ketika Ibrahim membangun altar bagi Allah yang sebenarnya diperuntukkan bagi dewa-dewa kanaan.[3]

Kemudian diuji kembali dengan ujian yang paling berat diantara ujian-ujian tersebut barangkali, Allah perintahkan Ibrahim meninggalkan putera beserta isterinya di sebuah tempat yang sama sekali asing baginya.


Perjuangan Hajar mencari air

Ibrahim meninggalkan Hajar dengan sedikit bekal. Sebungkus kurma dan sekantong air pemberian Ibrahim tidaklah cukup untuk bekal mereka. Sementara Hajar harus menyusui Isma’il kecil yang berusia sekitar dua tahun. Ibu dan anak itu dehiderasi karena suhu mekkah sangat panas. Dalam keadaan seperti itu, perbekalan Siti Hajar tak bertahan lama.

Akhirnya air pun habis, dan tak lama kemudian kemampuan hajar untuk menyusui Isma’il pun menurun. Kita tidak tahu seberapa lama Hajar bertahan tanpa air, ataupun berapa lama air susunya habis. Tapi, air susunya sudah habis sehingga Isma’il menjadi rewel karena lapar dan haus.[4]

Naluri keibuan  Hajar memaksanya untuk melakukan sesuatu. Dilihatnya Isma’il yang semakin lemah karena tak bisa menyesap air susu, ditambah lagi keadaannya yang menyedihkan. Tanpa air dan bekal makanan yang tersisa. Kini Hajar tahu harus berbuat apa. Segera ia bergerak menuju bukit di kejauhan, dengan harapan ia akan menemukan kafilah yang sedang lewat atau sumber air. Maka ditinggalkannya Isma’il untuk sementara.  Sekalipun ia telah tawakkal sepenuhnya kepada allah. Tapi Hajar bukanlah tipe orang yang berputus asa. Ia berikhtiar untuk mencari pertolongan.

Dicarinya bantuan kesana-kemari meski ia dalam keadaan lemah. Sesekali ia berlari dan sesekali ia berjalan tertatih-tatih. Tujuannya adalah bukit safa. Dengan terhuyung-huyung ia mendaki bukit tersebut. Dengan harapan dari atas bukit ia akan menemukan rombongan kafilah yang lewat. Namun setelah diedarkan pandangannya kesegala arah. Ia tak menemukan satu orangpun yang lewat.

Setelah puas memastikan tidak ada orang. Hajar kembali menuruni bukit, dengan perasaan harap-harap cemas, Hajar berlari penuh semangat menuju tempat Ismai’l. Sesampainya di lembah, Hajar tidak surut semangatnya untuk terus mencari bantuan. Ia mengurungkan niatnya untuk duduk bersama Isma’il. Hajar melanjutkan pencariannya, melewati lembah menuju bukit yang satunya lagi, yaitu bukit Marwa. Yang berjarak sekitar 490 Yard (sekitar 450 meter) dari bukit Safa.

Sama seperti di bukit sebelumnya. Hajar mendaki puncak bukit dengan sisa-sisa tenanga yang ia miliki. Sesampainya disana, ia kembali mengedarkan pandangan. Berharap ada orang yang lewat. Lagi-lagi hasilnya nihil. Hajar pun turun tanpa hasil dan kembali menuju lembah, tempat ia dan Isma’il tinggal. Hajar tiba-tiba memiliki semangat yang besar. Ia mampu berlari. Padahal sebelumnya ia tidak mampu berlari lama.

Kini ia semakin dekat dengan bukit Safa, kembali ia memopa semangatnya untuk mendaki. Setelah sampai kepuncak. Hajar hanya mendapati lembah yang tandus dan hampa sejauh mata memandang. Tak ada tanda-tanda kehidupan.[5]Dalam riwayat lain. Hajar melihat fatamorgana dari atas bukit. Ia melihat seolah-olah ada genangan air diantara Safa dan Marwa.

Hajar kembali menuruni permukaan miring bukit Safa yang berbatu licin. Sesampainya dikaki bukit, Hajar kembali mendapat semangat untuk berlari menuju Marwa. Hal ini terus berulang. Hingga tujuh kali Hajar bolak-balik antara Safa dan Marwa.

Mukjizat air Zam-zam
Pertolongan Allah terkadang datang dipenghujung kesabaran, pernah dengar? Begitulah yang terjadi kepaada Hajar. Setelah berusaha keras mencari pertolongan bahkan harus menempuh perjalanan yang sangat jauh di bawah terik matahari yang menyengat. Tentu kesabaran Hajar sangat besar, hingga keyakinannya tak surut bahwa Allah akan berikan pertolongan berkat usahanya. Tentu saja Allah akan memberikan pertolongan pada manusia salih dan tawakal seperti dirinya.

Ternyata sumber air yang dicari-cari Hajar diantara bukit Safa dan Marwa sama sekali tidak ada disana. Malahan sangat dekat. Mata air tersebut malah memancar dari tanah di bawah kali Isma’il. Ada riwayat yang mengatakan air Zam-zam keluar dari bekas kentakan kaki Isma’il. Ada juga yang mengatakan bahwa air zam-zam keluar dari galian yang dibuat oleh malaikat jibril. Wallahu’alam bissawab.

Ketika mata air memancar dari tanah. Hajar membuat bendungan dengan berseru “Zam.. Zam” yang dalam bahasa Arab artinya “berkumpillah!”. Sampai saat ini air itu bernama Zam-zam.

Mukjizat Zam-zam sangat luarbiasa. Pertama-tama ia muncul tiba-tiba dari tanah dan mengalir tak henti-hentinya. Kedua, Hajar cepat pulih dan kembali bugar. Ketiga, air susu Hajar kembali dengan cepat. Isma’il berhasil selamat dari kematian.[6]

Kedatangan kabillah Juhrum

Lama setelah mukjizat air Zam-zam dapat membuat kehiduapan lembah tandus itu menjadi lebih baik. Keadaan disana sudah jauh berbeda dari sebelumnya. Hajar mampu mengumpulkan banyak makan dan membuat sejenis tempat bernaung seperti pelepah dedaunan yang dibuat untuk tempat tinggal dia dan Isma’il.

Dengan persediaan air yang melimpah dan makanan dari buah kurma, mereka dapat bertahan hidup di mekkah selama beberapa waktu meskipun tanpa ada orang lain yang mengunjungi mereka. Sampai suatu ketika  mereka kedatangan kabilah juhrum yang melintas di daerah tersebut.

Orang dari kabillah tersebut melihat ada seekor burung yang terbang berputar-putar . mereka merasa heran mengingat tempat tersebut sangat tandus dan tidak mungkin ada sumber air. Lalu mereka bergegas mendekat kearah burung terbang tersebut dan menemukan sekelompok burung yang sedang terbang mengelilingi air Zam-zam.

Disana ada Hajar sedang duduk didekat sumur Zam-zam. Setelah mereka menyadari bahwa air zam-zam itu sangat melimpah, kabilah juhrum mendekati Hajar dengan takzim, dan mereka meminta izin untuk tinggal di mekkah.

Hajar setuju dan mengizinkan mereka untuk tinggal disana. Tapi ia juga mengatakan bahwa kabilah juhrum harus mengakui kepemilikannya dan Isma’il atas sumur itu dan persediaan airnya. Mereka menuruti permintaan Hajar dan segera kembali ke selatan untuk menjemput keluarga dan kerabat mereka. Tak lama kemudian, lembah tak berpenghuni itu mendadak ramai.

Tentu Hajar merasa senang atas kehadiran mereka. Karena selama ini ia hanya tinggal berdua saja dengan putranya yang masih bayi. Betapa kesepiannya ia selama ini. Isma’il tumbuh menjadi remaja ditengah-tengah orang Juhrum.

Isma’il belajar bahasa Araab dari suku Juhrum. Dalam mendidik Isma’il, Hajar memainkan dua peran sekaligus. Peran sebagai ibu dan peran sebagai ayah. Isma’il tumbuh menjadi remaja yang beakhlak mulia. Berkat pendidikan yang baik dari Hajar. 

Dalam sebuah hadis sahih dikatakan bahwa orang pertama yang mengucapkan bahasa Arab dengan dialek yang fasih adalah Isma’il.

Sa’id bin Yahya Al Umawi menceritakan, Ali bin Mughirah memberi tahu kami, Abu Ubaidah memberi tahu kami, dari Muhammad bin Ali bin Al-Husain, dari orang tuanya, dari nabi sallallahu’alaihi wa sallam, bahwa beliau pernah bersabda :

“yang pertamakali lidahnya kental dengan bahasa Arab yang sangat jelas adalah Isma’il, yaitu ketika ia berusia empat belas tahun”. Kemudian Yunus berkata kepadanya,  “Engkau benar, hai abu Sayar. Demikian Abu Jara memberitahuku”

Kunjungan pertama Ibrahim
Sampai sekitar sebelas atau duabelas tahun kemudian, barulah Ibrahim datang kembali mengunjungi Hajar dan Isma’il. Saat itu Ismai’il berusia empat belas tahun. Sungguh luar biasa rindunya ibrahim kepada Putera kesayangannya.

Ketika Ibrahim tiba di Mekkah, ia terkejut melihat perubahan tempat itu. Dua belas tahun yang lalu tempat itu sama sekali berbeda dari yang dilihatnya saat ini. Dulu, lembah itu sangat sunyi dan tandus. Tapi sekarang sudah berubah menjadi tempat yang sejuk, ditumbuhi tanama-tanaman yang tumbuh berkat sumber air dari sumur Zam-zam.

Ibrahim merasa senang ternyata disana sudah banyak terlihat tenda-tenda yang terpencar. Dan ada beberapa perumahan permanen menghiasi daerah yang dulunya tandus itu.

Kebahagiaan Ibrahim semakin bertambah-tambah. Tidak saja ia bahagia karena berjumpa puteranya, ia juga merasa amat bahagia mendapati kehidupan Hajar dan Isma’il dilimapakhan rejeki yang sedemikian besar oleh Allah. Ia kini merasa lega luarbiasa. Ada banyak cerita yang ingin ia sampaikan dan ingin ia dengar dari keluarga kecilnya itu.


Mimpi Ibrahim
Pada suatu hari, saat Ibrahim bersama Isma’il—saat itu isma’il telah berusi 14 tahun—pada malam tarwiyah, hari ke-8 bulan dzulhijah, Nabi Ibrahim bermimpi mendengar seruan: “Hai Ibrahim! Penuhilah Nazar (janji) mu!”

Pagi harinya beliaupun berpikir, apakah mimpi itu dari Allah atau dari setan? Dari sinilah kemudian tanggal 8 Dzulhijah disebut sebagai hari tarwiyah yang artinya berpikir atau merenung.

Pada malam berikutnya, beliau bermimpi sama seperti malam kemarin. Pagi harinya beliau yakin bahwa mimpinya itu dari Allah s.w.t. dari sinilah hari ke-9 Dzulhijah disebut dengan hari Arafah artinya mengetahui. Dan waktu itu Ibrahin kebetulan sedang di tanah Arafah.

Sebelumnya kisah Qurban ini dilatarbelakangi oleh Nazar (janji) Ibrahim ketika ia menyembelih qurban fisabillillah berupa 1000 ekor domba, 300 ekor sapi, dan 100 ekor unta. diriwayatkan bahwa Ibrahim membuat banyak orang kagum karenanya. Bahkan malaikatpun sangat terkesan kepada kesungguhannya dalam berqurban. Bagi Ibrahim Qurban sejumlah itu belum ada apa-apanya. Maka ia berkata :

”Demi Allah! Seandainya aku memiliki anak laki-laki pasti akan aku sembelih karena Allah dan aku kurbankan kepada-Nya” 

Sehingga kelak Allah menagih janji Ibrahim dengan mengurbankan putera hasil perkawinannya dengan Hajar. Yang saat itu merupakan putera tunggalnya. Karena Ishak (putera dari Sarah) belum lahir.

Pada mimpi yang ketiga, Ibrahim medengar seruan “sesungguhnya Allah memerintahkanmu agar engkau menyembelih puteramu Isma’il” beliau terbangun seketika. Dengan perasaan yang sulit dimengerti, ia merangkul Isma’il sambil menangis sampai pagi.

Pagi harinya beliau menemui Hajar dan menyuruh isterinya itu mendandani Ismail dengan pakaian terbaiknya.

“Dandaniah puteramu dengn pakaian yang paling baagus, sebab dia akan kuajak untuk bertamu kepada Allah”

 Hajar pun melaksanakan titah sang suami. Didandaninya Isma’il dangan pakaian terbaik, diminyaki rambutnya dan disisir rapi.

Kemudian Ibrahim membawa Isma’il ke suatu lembah di daerah Mina dengan membawa perlengkapan untuk menyembelih qurban. Yaitu sebilah pedang dan tali.

Pada saat itu Iblis sibuk luar biasa. Sebelumnya mereka tidak pernah sesibuk ini. Iblis ingin menggoda agar pengurbanan itu tidak jadi di laksanakan.

“Hai Ibrahim! Tidakkah kau perhatikan anakmu yang tampan dan lucu itu?” Goda sang Iblis terkutuk.

“Benar, namun aku diperintahkan untuk itu (menyembelihnya)” Jawab Ibrahim.

Iblis gagal membukuk ayahnya, lalu beralih kepada ibunda Hajar. “Mengapa kau hanya duduk-duduk  tenang saja padahal suamimu membawa anakmu untuk disembelih!” Goda iblis

“Kau jangan berdusta padaku! Manamungkin seorang ayah membunuh anaknya?” Jawab ibunda Hajar.

“Mengapa ia membawa tali dan pedang?” Pancing Iblis.

“Atas dasar apa seorang ia membunuh anaknya?” Jawab Hajar balik bertanya.

“Ibrahim menyangka Allah memerintahkannya untuk itu”

“Seorang Nabi tidak akan ditugasi untuk berbuat kebatilan. Seandainya itu benar, nyawaku sendiripun siap dikorbankan demi tugasnya yang mulia ini, apalagi hanya dengan mengorbankan nyawa anakku.hal itu belum berarti apa-apa!” Tegas Hajar.

Sertamerta Iblis meninggalkan Hajar dan beralih ke Isma’il. Ia menggoda Isma’il dengan berkata; “Hai Ismai’il mengapa kau hanya bermain-main dan bersenang-senang saja padahal ayahmmu mengajakmu kesini untuk menyembelihmu. Lihat ia membawa tali dan sebilah pedang.”   

 “Kau dusta”  Jawab Ismail. “Memangnya kenapa ayah harus menyeembelihku?

“Ayahmu menyangka bahwa allah yang memerintahkanya” Kata  Iblis meyakinkan nya

“Demi perintah Allah! Aku siap mendengar,patuh dan melaksanakan dengan sepenuh jiwa ragaku” Balas Isma’il mantap.

Ketika Iblis hendak merayu dan menggodanya dengan kata-kata lain, Isma’il memungut sejumlah kerikil di tanah, dan langsung melemparkan kea rah Iblis hingga buta lah mata sebelah kiri. Maka Iblispun pergi dengan tangan hampa. Dari sinilah kemudian dikenal untuk melempar kerikil (jumrah) dalam ibadah Haji.


Pengurbanan Isma’il
Sesampainya di Mina,barulah Nabi Ibrahim berterus terang kepada putranya, ia menceritakan perihal mimpinya itu kepada Isma’il.

“wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah pa pendapatmu!” isma’il menjawab “wahai ayahku kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insyaallah kau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” (Qs. Ash-Shaffat 102)
Mendengar jawabn Isma’il, Ibrahim merasa lega. Beliau langsung bertahmid sebanyak-banyaknya.
Ibrahim merasa bangga mendapati puteranya yang patuh kepada perintah Allah. Sekaligus ia merasa sedih sebab akan melihat putera satu-satunya meninggal ditangannya sendiri.

Namun, walau demikian. Keduanya tetap teguh pada keyakinannya dan tak goyah oleh rasa takut. Hati mereka dipenuhi cinta kepada Allah, maka tidak ada lagi ruang di dalam hati mereka untuk menghianati perintah Allah.

Ketika mereka sampai ketempat yang telah ditentukan Allah. Ibrahim mmendirikan Altar untuk tempat pengurbanan Isma’il.

Setelah selesai membangun Altar Ibrahim menyuruh Isma’il berbaring diatasnya. Kemudian menutupi wajaah dan kepala isma’il dengan kain agar Ibrahim tidak iba melihat wajah anakknya ketika proses penyebelihan itu. Allah telah menyaksikan keteguhah hati keduanya.

“Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipisnya (nyatalah kesabaraan keduanya) (Qs. Ash-Shaffat : 103)

Sebelum eksekusi kurban dilaksanakan, terlebih dahuli Isma’il berpesan kepda ayahnya. “wahai ayahanda! Ikatlah tanganku agar aku tidak bergerak-gerak serta merepotkan. Telungkupkanlah wajahku agar tidak terlihat oleh ayah sehingga ayah menjadi iba. Singsingkanlah lengan baju ayah agar tidak terkena percikan darah sedikitpun sehingga bias mengurangi pahalaku, dan jika ibu melihatnya tentu akan turut berduka.”

“tajamkanlahpedang dan goreskan segera dileherku ini agar lebih mudah dan cepat proses mautnya. Lalu bawalah  pulang bajuku dan berikan pada ibu agar menjadikenangan baginya. Serta sampaikan salamku untuk ibu dengan berkata ‘wahai ibu, bersabarlah dalam melaksanakan perintah Allah.’ Terahir, janganlah ayah mengajak anak-anak lain kerumah ibu sehingga ibu semakin berduka karena kehilanganku, janganlah pandangi anak-anak itu dengan seksama sehingga menimbulkan rasa sedih dihati ayah.”

Mendengar itu nabi Ibrahim terharu dan berkata “ sebaik-baik kawan dalam melaksanakan perintah Allah adalah kau, wahai puteraku tercinta!”

Kemudian Nabi Ibrahim menggoreskan pedangnya sekuat tenaga, namun saying sekali, pedang itu tak mampu melukai leher Isma’il sedikitpun.

Ismai’l mengira ayahnya tidak tega. Maka ia berkata ‘ wahai ayahanda! Lepaskanlah tali pengikat tangan dan kakiku ini agar aku tidak diniai terpaksa dalam melaksanakan perintahnya. Goreskan lagi keleherku agar para malaikat mengetahui bahwa diriku taat kepada Allah SWT dalam menjalankan perintah-Nya.”

Nabi  Ibrahim melepaskan ikatan tangan dan kaki puteranya, lalu beliau hadapkan wajah isma’il kebumi dan langsung menggoreskan pedangnya ke leher Isma’il dengan sekuat tenaga. Namun sama seperti sebelumnya. Pedang itu tak mampu melukai leher Isma’il. Ibrahimpun merasa geram dan heran kenapa pedang itu selalu terpental. Ia mencoba menguji ketajaman pedang tersebut dengan membacokknnya pada batu di dekat nya. Kemudian batu itu terbelah menjadi dua bagian.

Ibrahim pun berseru “Hai pedang! Kenapa kau sanggup membelah batu tapi kenapa tidak sanggup menggores daging?”

Atas izin Allah pedang itu pun menjawab “Hai Ibrahim, kau menyuruhku untuk menyembelih puteramu, sedangkan Allah melarangku. Jika begitu, kenapa aku harus menentang perintah Allah?”
Allah berfirman :

Sesungguhnya demikianlah kami memberikan balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suuatu ujian yang nyata.” (Qs. Ash-Shaffat : 106)

Isma’il telah menyambut ajakan ayahnya dan berjanji akan bersabar atas ketentyan-Nya, maka ia pun benar-benar bersabar atasnya. Di dalam Al-Qur’an Allah berfirman :

“ Dan ceritakanlah hai (Muhammad) kepada mereka kisah Isma’il yang tersebut di dalam Al-Qur’an. Sesungghnya ia adalah seseorang yang benar janjinya. Dan ia adalah seorang Rasul dan Nabi. Dan ia menyuruh umatnya untuk mengerjakan shalat dan mengerjakan zakat. Dan ia adalah orang yang diridhai disisi tuhannya.” (Maryam 54-55)

Maka Ibrahim mendengar seruan Allah s.w.t :

“Wahai Ibrahim sesungguhnya kamu telah membenarkan mimipi itu. Sesungguhnya demikianlah kami memberikan balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suuatu ujian yang nyata.” (Qs. Ash-Shaffat : 104-106)

Dihadapan Ibrahim tiba-tiba ada malaikat jibril yang sedang membawa domba yang amat besar. Lalu ibrahim menukar Isma’il dengan domba tersebut unmtuk di kurbankan.

”Dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar (Qs. Ash-Shaffat : 107)

Kebahagiaan kembali menyeruak kedalam lubuk hati Ibrahim setelah sebelumnya ia merasakan sedih akan kehilangan putera sematawayangnya.
Lalu pada ayat berikutnya Allah berfirman :

“kami abadikan untuk ibrahim itu (pujian yang baik) dikalangan orang-orang kemudian, (yaitu) kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim.” (Qs. Ash-Shaffat : 108-109)

Kewajiban berkhitan

Menurut kitab perjanjian. Setelah peristiwa pengurbanan Isma’il. Allah membuaat perjajian antara Allah dan Ibrahim. Salah satu perjanjian itu adalah perintah untuk ber khitan. Nabi Ibrahim segera melaksanakannya. Ia memanggil dua pembantunya yang menemani Ibrahim pergi ke Makkah. Kemudian ia mengkhitan ismail, kedua pembantunya, dan dirinya sendiri.[7]

Dari semua agama di dunia ini, khususnya agama samawi saat ini. Tidak ada yang benar-benar menjalankan perintah berkhitan kecuali islam. Oleh sebab itu, Al-ustad Zakir naik dalam debat-debatnya sering mempertanyakan keimanan kaum Nasrani dan kaum Yahudi yang mengaku taat beragama. “Adakah engkau berkhitan?kenapa engkau tidak berkhitan sedangkan nabi-nabi kalian berkhitan. Ibrahim saat menerima perjanjian dari Tuhan segera berkhitan, Isma’il juga berkhitan, Yesus juga di khitan” begitulah kurang lebih pernyataan ulama perbandingan agama tersebut. Jadi, berkhitan itu telah diperintahkan kepada Nabi-nabi setelah Ibrahim menerima perintah berkhitan. Lalu diteruskan oleh nabi-nabi sesudahnya. Hingga sampailah kepada nabi terakhir. Yaitu Muhammad salallahu alaihi wasallam, dan dilaksanakan oleh seluruh umat muslim saat ini.

Pernikahan Isma’il

Dari beberapa riwayat mengatakan bahwa Isma’il telah menikah pada usia muda, yaitu saat ia berumur empat belas tahun. Al Umawi mengatakan isteri Isma’il yang pertama bernama Imarah Binti Sa’ad bin Usamah bin Uqail Al Amaliki.

Saat itu Ibrahim dating ke Mekkah untuk mengunjungi Isma’il, namun Isma’il tidak ada dirumahnya. Ia sedang bergi berburu. Lalu Ibrahim menemui menantunya dan bertanya kemana suaminya dan apa pekerjaannya sekarang.

Lalu sang menantu menceritakan bahwa suaminya sedang berburu, dan kehidupan mereka sangat sulit. Maka nabi ibrahim berpesan kepada isterinya untuk menyampaikan salam kepada Ismail sambil berkata “Apabila suamimu dating, sampaikan salam dariku dan katakan agar ia mengganti palang pintu rumahnya”.Kemudian Ibrahim kembali ke syam.

Saat Isma’il pulang kerumah. Ia merasakan ada sesuatu yang aneh, lalu bertanya kepada isterinya. Lalu isterinya bercerita “ Tadi ada seorang tua dating yang sifatnya demikian (ia menyebutkan sifat-sifat nabi ibrahim). Ia bertanya tentang engkau dan aku kabarkan kepdanya. Dan dia juga bertanya tentang kehidupan kita, lalu aku katakana padanya bahwa kita dalam kesulitan. Kemudian beliau menitipkan salam untukmu dan mengatakan agar engkau mengganti palang pintu rumahmu”

Ternyata isteri Isma’il tidak tahu bahwa yang dia temui barusan adalah mertuanya. Lalu Isma’il menjawab. “Dia adalah ayahku, dan engkaulah yang dimaksud dengan palang pintu itu. Kembalilah engkau kepada orang tuamu” Dengan kata lain Isma’il menceraikan isterinya.

Setelah itu Isma’il menikahi wanita lain, wanita itu bernama Sayyidah binti Madhadh bin Amr Al Jurhumi. Ada yang mengatakan, bahwa wanita itu adalah isteri ketiganya. Dari wanita itu isma’il mempunyai duabelas anak laki-laki, yang oleh Muhammad bin Ishak menyebut sebagai berikut: Nabit, Kaidar, Wazbil, Maisyi, Masmak, Maasy, Daush, Arar, Yathur, Nabasy, Thaima, dan Kaizama. Demikian itulah nama-nama yang disebut oleh Ahlul kitab dalam kitab mereka.[8]

Ketika ajal menjelang. Isma’il berpesan kepada saudaranya Ishak dan menikahkan puerinya bernama Nasamah dengan putera Ishak yang bernama Al- Aish bin Ishak. Dari pernikahan kedua anak nabi itu lahirlah bangsa Romawi. Dan lahir pula dari keduanya bangsa Yunani.

Pada kunjungan Ibrahim berikutnya, ia mendapati isteri Isma’il yang baru. Lalu menanyakan kabar Isma’il dan kabar kehidupan rumah tangga mereka. Sang isteri saliha itu menceritakan bahwa hidup mereka penuh dengan nikmat dan kebaikan.

Isteri Nabi Isma’il kali ini adalah wanita yang bersyukur kepada nikmat Allah, tidak mengeluh kesulitan apapun karena sifat tawadhu’nya.  Maka Ibrahim berpesan kepadanya “ jika suamimu pulang, sampaikanlah salam kepadanya dan katakana agar ia mengokohkan palang pintu rumahnya. Setelah itu Ibrahim segera pulang ke Syam.

Ketika nabi Isma’il pulang, ia bertanya kepada isterinya “Apakah tadi ada yang mengunjungimu?”

Isterinya menjawab “Tadi datang kepadaku seorang tua yang keadaannya demikian..”

Nabi isma’il bertanya “ apakah ada sesuatu yang dia katakana kepadamu?”

Lalu isterinya menjawab, dia bertany kepadaku tentang dirimu, dan akupun menceritakannya. Dan ia bertanya pula tentang kehidupan kita, maka aku sampaikan bahwa kita berada dalam kenikmatan dan aku mengucapkan syukur memuji Allah”

Nabi Isma’il bertanya lagi “kemudian apa lagi yang ia katakan?”

Isterinya menjawab, “ia menitipkan salam untukmu dan memerintahkanmu untuk mengokohkan palang pintu rumahmu”

Nabi Isma’il lantas berkata. ‘dia adalah ayahku, dan engkau adalah palang pintu itu. Dia memerintahkan agar aku tetap mempertahankanmu (sebagai isteri)


Membangun kembali Bait Allah (ka’bah)
Ka’bah adalah bangunan yang terdiri dari batu biasa dan batu-batu itu tidaklah punya kelebihan apapun. Namun, ka’bah menjadi symbol tauhid Islam dan menjadi tempat penyucian kepada Allah. Menuru sejarah. Jauh-jauh hari sebelum Nabi Ibrahim dan puteranya Ismail mendirikan Ka’bah. Bait Suci Allah telah berada disana. Kabarnya tempat itu merupakan Rumah Allah pertama yang dibangun oleh nabi Adam AS. Namun seiring bergulirnya waktu, jejak bangunan itu hilang dimakan usia. Sehingga Allah perintahkan Nabi Ibrahim dan Isma’il untuk membangun kembali, agar Rumah Allah tetap berdiri hingga akhir zaman.
Dalam Al-Qur’an Allah berfirman :

“Dan ingtlah ketika Ibrahim meninggikan (membangun) dasar-dasar Baitullah bersama Isma’il seraya berdo’a ; ‘ya Tuhan kami, terimalah dari kami (amalan kami), sesungguhnya engkaulah yang maha mendengar. Lagi maha mengetahui. Ya Tuhan kami. Jadikanlah kami berdua orang yang tunduk dan patuh kepada engkau dan jadikanlah diantara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami. Dan terimalah taubat kami. Sesungguhnys engkau yang maha penerima taubat lagi maha penyayang. Ya tuhan kami, utuskah kepada mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akam membacakan kepada mereka ayat-ayat engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al-kitab (al-Qur’an) dan Al-Hikmah (as-sunnah) serta menyucikan mereka. Sesungguhnya engkaulah maha perkasa lagi maha bhijaksana.” (Qs. Al-Baqarah :127-129)


Demikianlah kisah pendirian Bait Suci Allah di Mekkah yang kini dinamai Ka’bah. Semoga Rahmat dan salam tetap tercurah kepada Ibrahim, bapak Para nabi, serta puteranya Isma’il.
Nabi Isma’il diangkat menjadi Nabi pada tahun 1850 SM. Ia tinggal di Amaliq, dan berdakwah untuk penduduk Al-amaliq, Bani Juhrum dan kabilah yaman. Bersama ayahnya ia membangun kembali ka’bah (Baitullah).

Nabi Isma’il alaihissalam dimakamkan di Hijr bersama ibunya, Hajar. Beliau wafat pada usia 173 tahun.


Daftar pustaka
Al-qur’an Al-Karim
Hadis sahih Bukhari Muslim
Ibnu Katsir, Kisah para Nabi
Dr, Jerald F. Dirks, Ibrahim Sang Sahabat Tuhan
Ahmad bahjat, Nabi-Nabi Allah











[1] Nabi-Nabi Allah, Ahmad bahjat, hlm 141
[2] Kisah Para Nabi, Ibnu katsir, hlm, 258
[3] Ibrahim Sang Sahabat Tuhan, DR. Jerald F. Dirks, 130
[4] Ibrahim Sang Sahabat Tuhan, DR. Jerald F. Dirks, 131
[5] Ibrahim Sang Shabat Tuhan, DR. Jerald F. Dirks, 132
[6] Ibrahim Sang Sahabat Tuhan, DR. Jerald F. Dirks, 134
[7] Ibrahim Sang Sahabat Tuhan, DR. Jerald F. Dirks, 153
[8] Kisah Para Nabi, Ibnu katsir, hlm, 260

No comments:

Postingan Terbaru

Hey, Kok Sedih? Perlu Sedikit Motivasi Untuk Move On?

Halimahdaily.com - Bukan begini cara menjalani hidup. Membuang banyak waktu dengan bertanya 'apa salahku?'. Tak perlu tanyakan i...

Translate

Post Bottom Ad

Halaman