Diam dalam Perspektif Islam dan Aceh - Halimah Daily

Home Top Ad

Post Top Ad

Saturday, 31 December 2016

Diam dalam Perspektif Islam dan Aceh

Salah satu bahasa non Verbal yang paling banyak memiliki arti adalah diam. Diam bisa berarti marah, bisa berarti menghukum, bisa berarti mengusir, bisa berarti menghina. Namun diam juga bisa bermakna baik. Seperti diamnya seorang gadis saat dilamar, yang artinya setuju.

Diam didalam Islam mempunyai banyak kebaikan. Karena ketika diam, seseorang telah menjaga lisannya dari mengeluarkan kata-kata yang berpotensi kearah dosa.

Allah berfirman :

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu sekalian kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki amalan-amalanmu dan mengampuni dosa-dosamu. Barangsiapa mentaati Allah dan RasulNya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenengan yang besar” 
[Al-Ahzab : 70-71]


Maka setiap perkataan orang muslim harus terpelihara dari unsur-unsur yang dapat menjerumuskan kedalam perbuatan dosa. Sesama Muslim tidak boleh saling membicarakan kejelekan-kejelekan muslim yang lain.
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka itu adalah dosa. Janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah kamu sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. 

Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati ? Tentu kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang” [Al-Hujurat : 12]

Bergosip dan menggunjing di ibaratkan memakan bangkai saudara sendiri yang berarti sangat menjijikan, kotor, hina dan perbuatan yang tega. 

Maka solusinya lebih baik diam apabila perkataan yang ingin diucapkan ternyata memunyai potensi keburukan. Sedangkan apabila yang hendak dikatakan adalah kebaikan yang sangat berguna bagi orang banyak, maka tidak tepat apabila memilih diam.

 “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik, atau diam” (HR. Bukhari Muslim)



Ada beberapa budaya ni negara-negara barat bahwa orang yang pendiam dianggap aib, tidak menyenangkan, dan sombong. Karena bagi mereka, bayak berbicara adalah cara menikmati hidup. Namun di Aceh perihal ini tidak menjadi polemik. 

Pendiam tidak dianggap aneh, dan banyak berbicara juga tidak apa-apa. Namun terkait sopan santun, tentunya orang yang pendiam disaat-saat yang tepat tentu lebih disukai daripada orang yang terlalu banyak berbicara mangacau kemana-mana.

No comments:

Postingan Terbaru

Hey, Kok Sedih? Perlu Sedikit Motivasi Untuk Move On?

Halimahdaily.com - Bukan begini cara menjalani hidup. Membuang banyak waktu dengan bertanya 'apa salahku?'. Tak perlu tanyakan i...

Translate

Post Bottom Ad

Halaman