Pergi Ke Sabang, Iseng-Iseng Berhadiah! - Halimah Daily

Home Top Ad

Post Top Ad

Thursday, 7 December 2017

Pergi Ke Sabang, Iseng-Iseng Berhadiah!


Aku adalah warga Aceh yang memimpikan suatu saat bisa berlibur ke pulau Sabang. Meskipun Sabang itu dekat dari Banda Aceh, namun untuk pergi kesana rasanya perlu mikir-mikir lagi. Mengingat dompet anak kuliyahan yang, emmm, tipis.

Tiba-tiba ada temen ngajakin pergi ke sana untuk liputan acara sail Sabang (28 November sampai 05 Desember 2017). Katanya acaranya itu meriah. Aku sendiri awalnya gak tau apa itu sail sabang. Ku kira, sejenis pameran-pameran fair biasa. 

Namun, setelah aku Googling. Ternyata sail Sabang itu adalah acara besar. Dihadiri oleh 20 ribu wisatawan, 3 ribu diantaranya adalah turis mancanegara. Bukankah itu luarbiasa?!
Merasa seperti orang bodoh yang tak tau apa-apa, aku semakin penasaran dengan festival sail Sabang. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya aku meng-iya-kan ajakan si teman untuk liputan disana, walaupun sebenarnya agak was-was karena budget tipis.

Bukan main acara ini, ternyata para wartawan dari semua media di undang. Mereka semua diberi id card dari pihak kepanitiaan. Si teman yang mengajakku juga punya id card dari Humas Aceh. Lalu aku? Jelas saja gak punya apa-apa. Kalau aku ingin ke sabang untuk liputan, setidaknya aku harus punya id card dari media online tempat aku berkerja. Sayangnya aku tak punya.

Setelah lobi sana-sini, akhirnya aku dapat id card, tapi cuma file nya aja. Artinya aku harus cetak sendiri. Sedangkan aku udah di kapal ferri menuju Sabang. Kamu bisa bayangkan apa yang akan terjadi? Awalnya aku menganggap enteng saja. Karena ku pikir akan mudah menemukan percetakan di Sabang, rupanya aku salah besar!  

Baca Juga : Harga Sebuah Pemberian


Kami tiba di Sabang sekitar jam empat sore. Kemudian keliling-keliling cari percetakan sampai magrib. Gara-gara sibuk ingin cetak id card. Kami sampai lupa soal penginapan. 

Untunglah kami berjumpa orang yang tepat. Bapak satpam pendopo gubernur Sabang. Beliau memperkenankan kami untuk tinggal di rumahnya. Geratis! Betapa beruntungnya kami!


Hari pertama

Pada puncak acara pembukaan Sail Sabang, si temen lolos masuk ke area opening ceremony. Pintu masuk kesana dijaga ketat. Jadi, aku cuma bisa nunggu di luar. Dengan hujan, becek, gak ada ojek! Aku terpaksa menyingkir dan mencari tempat berteduh di pinggir jalan. 

Sedih? Jelas sedih, sudah ini pengalaman pertama ke sabang, malah jadi anak terbuang, hikss.

Diam-diam aku mencari cara lain supaya aku gak sia-sia kesini. Dalam hujan yang lebat dan pikiran yang terus memberontak, aku mendapat ide. Bagaimanapun caranya, aku tetap harus meliput acara ini. Yah, walaupun aku gak bisa meliput acara opening ceremony. Setidaknya aku bisa meliput hujan lebat ini. Akhirnya aku menulis. Jadilah sebuah berita. Jreng jreng!!!!

Sedang asik memikirkan ide lain, aku dapat pesan dari si teman yang berada di arena opening ceremony. Katanya dia gak bisa masuk kedalam lagi. Dia tertahan di media center karena id card miliknya tidak ada stempel merah. Walah? Disaring lagi? Diam-diam aku terkekeh. Jahat juga aku. Temen menderita malah senag.
Pulang dari acara opening ceremony aku dapat kejutan. Si temen ngasih uang. Uang apa? Uang saku untuk wartawan katanya. Wawww! Ini benar-benar hari keberuntunganku yang ke dua setelah dapat penginapan geratis kemarin! Entah bagaimana caranya dia bisa mendapatkan itu. Temanku memang the best!

Hari kedua

Kami berangkat lagi pagi-pagi. Tujuannya masih sama. Ke pelabuhan CT-3 tempat acara opening ceremony kemarin. Hari ini gak ada penjagaan lagi. Warga penginjung sail Sabang diperbolehkan masuk. Aku menjadi paham kenapa kemarin dijaga begitu ketat. Karena, kemarin datang bapak Wapres,  Jusuf Kalla!

Hari ini agenda kami adalah untuk berkeliling stand festival kopi dan festival kuliner. Tapi ternyata kami mendapatkan lebih banyak dari itu. Kami juga menemukan stand lain yang gak kalah menarik. Ada Satand BUMN dan perbankan, stand dari seluruh kementrian/lembaga, dan stand Pemda dan SKPD Aceh.



Lelah berkeliling, lelah icip-icip, akhirnya kami pulang ke penginapan menjelang magrib. Malamnya kami menulis berita lagi. Sampai tepar ketiduran. 

Hari ketiga

Seberarnya rencana kami hanya dua hari disabang, hari ke tiga kami pulang. Tapi, karena kemarin tidak sempat jalan-jalan ketempat wisata Sabang, akhirnya kami menunda kepulangan kami ke Banda Aceh. Hari ini agenda kami adalah jalan-jalan sepuasnya. Gak ada liputan, gak ada wawancara.

Tujuan kami adalah ke tugu kilometer nol, makan rujak di anoe hitam, terus ke gua sarang, terakhir ke pasir putih. Tapi karena guide kami datang telat, sekitar jam 14.00 baru jemput kami jalan-jalan. Mau bagaimana lagi, dengan waktu tersisa tiga jam lebih menjelang magrib. Kami tidak bisa berharap banyak. Rasanya mustahil bisa pergi kesemua destinasi yang kami angan-angankan.


Akhirnya, kami cuma bisa pergi ke dua tempat. Yaitu ke Tugu kilometer nol dan ke Gua sarang. Itu aja udah lebih dari cukup. Ketimbang tidak pergi sama sekali. And, bdw, kami jalan-jalan ini geratis loh! Yakkk! Kami beruntung lagi hari ini! Rejeki anak soleh, wkwkwk.

Dan akhirnya, hari keempat kami pulang. Dengan sebuah cerita bahagia mengisi rongga dada. Tidak pernah terbayangkan bahwa semua akan berjalan seindah itu. Rasanya ingin kembali lagi ke Sabang kapan-kapan. Tapi dengan cerita yang lebih indah lagi. Dengan persiapan yang lebih matang lagi. Supaya puas berkeliling, puas belanja oleh-oleh tanpa harus khawatir dengan isi dompet. Kapan ya? Mungkinkah saat itu akan tiba?

No comments:

Post a Comment

Postingan Terbaru

Hambatan Dalam Berkomunikasi

Halimahdaily.com - Ada beberapa hal yang dapat menjadi penghambat atau penghalang dalam proses berkomunikasi. Penghambat tersebut dikena...

Translate

Post Bottom Ad

Halaman