Cerpen : Bayi Monster - Halimah Daily

Home Top Ad

Post Top Ad

Saturday, 4 August 2018

Cerpen : Bayi Monster


Bayi itu tersenyum dalam diamnya yang beku. Tuan muda, aku benar-benar cemas!

Bayi itu tersenyum dalam diamnya yang beku. Tuan muda, aku benar-benar cemas!

Bayi ini, sangat imut. Seperti tuan muda saat kecil dulu. Sayangnya, aku tak bisa menjaganya dengan baik. Dia jatuh dari kursi karena kecerobohan ku.

Kupikir bayi ini mati. Melihat tubuhnya terkulai lemah dilantai, kupikir nyawanya telah melayang. Saat ku raih tubuh mungilnya, wajahnya pucat seperti mayat. Aku takut sekali. Bagaimana kalau dia mati? Aku bisa dibunuh oleh ibunya!

Aku menangis sambil menciumi bayi itu, kumeriksa nadinya. Lehernya hangat seperti orang demam. Itu tandanya dia masih hidup, kan? Iya kan, tuan muda?

Nadinya terasa berdenyut pelan. Dia hidup! Aku bahagia sekali, dia masih bernafas. Bayi itu menggeliat, terlihat begitu rapuh. Oh, maafkan aku bayi mungil, aku tak menjagamu dengan baik.

Bayi itu tersenyum dalam diamnya yang beku. Tuan muda, aku benar-benar cemas!

Kuperiksa semua keadaan tubuh bayi mungil itu, dibagian tengkuknya ada biru-biru memar. Bagian lengan dan kakinya juga biru-biru. Tapi, ini benar-benar memar?

Perlahan, warna biru ditubuh bayi itu menjalar-jalar, meliuk-liuk berbentuk sesuatu. Kulit mulus si bayi berubah seperti tubuh bertato symbol-simbol aneh. Kini tubuhnya bergerak pelan. Kelopak matanya bergerak-gerak. Dia akan bangun?

Aku membanting tubuh bayi itu karena ketakutan. Bayi mungil itu berubah menjadi makhluk aneh menyerupai asap hitam dan mengeluarkan suara murka yang bergemuruh. 

Asap hitam itu seperti ingin menelanku hidup hidup.

Tolong aku! Aku tak bisa bergerak ataupun berteriak. TUAN MUDA, TOLONG AKU!!!!

Uhuk, uhuk! Tenggorokanku kering. Rasanya, seperti habis berteriak sekuat tenaga. Aku mengerjap. Eh, aku diatas tempat tidur? Tadi itu Cuma mimpi?

Mimpi buruk lagi. Huuuft!

Aku selalu mimpi buruk saat memikirkan dirimu, tuan muda. Kamu dimana?

Aku adalah pengasuhmu, kenapa kamu menghilang? Harusnya kamu datang padaku. Harusnya kamu bersamaku sekarang. Tidakkah kau merindukanku?

Pulanglah tuan muda. Aku akan menunggumu pulang. Aku tak akan kemana-mana. Sampai aku mati dan tua.


Baca cerpen lainnya ---> I’am Not Pretty

No comments:

Post a Comment

Postingan Terbaru

Hambatan Dalam Berkomunikasi

Halimahdaily.com - Pernahkah kamu merasa jengkel sendiri karena orang yang kamu ajak bicara tidak nyambung? Atau sebaliknya, kamu yang m...

Translate

Post Bottom Ad

Halaman