Cerita Cinta Tanpa Cinta - Halimah Daily

Home Top Ad

Post Top Ad

Sunday, 31 March 2019

Cerita Cinta Tanpa Cinta


Halimahdaily.com -  Saat remaja, aku pernah jatuh cinta pada seorang anak baik-baik, dari keluarga baik-baik. Dia selalu manis, tak pernah terlihat berbuat satu kesalahanpun. Dia mengagumkan.

Semakin hari, dia bersinar semakin terang. Wajahnya indah, dan semakin indah. Cahanyanya berkilauan hingga semua orang melihatnya. Semua gadis mengelilinginya, semakin sulit untuk menjadi yang terdekat darinya. Aku menjauh pada akhirnya.

Dulu kuberpikir, seandainya dia tidak begitu indah, pastilah aku tidak sulit mendekatinya. Aku lebih berharap dia tidak terlahir dengan wajah sempurna. Agar setara denganku yang memiliki wajah biasa-biasa saja.

Beranjak dewasa, aku melihatnya terus dikelilingi wanita. Dia tersenyum saat melihatku, sorot matanya menyiratkan dia merinduiku. Namun tak kudengar sepatah rindupun dari bibirnya. Dia tertahan untuk bicara karena sesuatu. Kurasa semua itu karena wajahku.

Seorang temannya datang memberiku kartu ucapan, disana tertulis gambar senyum dan sebuah gambar bunga. Tertulis nama pengirimnya adalah dia. Teman remajaku yang manis.

Aku tidak tahu entah apa artinya. Sulit bagiku memahami symbol tanpa kata-kata. Jadinya kubiarkan saja tanpa jawaban. Aku tak tahu harus menjawab apa.

Suatu hari, kudengar dia berpacaran dengan teman dekatku. Orang yang agak mirip parasnya denganku. Hanya saja dia lebih putih dan lebih tinggi. Dan juga dia anak dari keluarga terhormat. Jauh berbeda dengan diriku.

Saat itu, aku merasa sedih dan tak rela. Tapi mau bagaimana, dia telah jatuh cinta.

Dalam diam, aku tak surut menyukainya. Melihat semua gerak-geriknya dari jauh. Kenyataan bahwa dia punya pacar, tidak menyurutkan rasa suka-ku kepadanya. Aku tetap menyukainya.

Sampai akhirnya, kudengar dia sakit parah dan harus dirawat diluar kota. Hatiku tersayat-sayat dan tak kuasa menahan tangis. Setiap hari hanya bisa memandang bangku kosong yang selalu dia tempati. Kelas yang ramai, terasa sepi.

Kabar duka datang dari orangtuanya. Katanya dia telah pergi untuk selamanya. Kabar itu lebih menyedihkan ketimbang mendengar dia berpacaran dengan orang lain.

Ibunya datang kepadaku, memberiku satu kartu ucapan yang dititipkannya. Sebuah gambar kartun laki-laki tersenyum seperti yang pernah dia kirimkan sebelumnya. Tanpa kata-kata. Aku tak mampu menahan tangis yang pecah begitu saja. Didepan ibunya yang juga menangis memelukku.

Jika dia menyukaiku, kenapa sampai akhir dia diam membisu. Bahkan dia tak mampu mengatakan apapun padaku. Apa salahnya berkata jujur?

Sulitkah berkata “aku menyukai mu”. Hanya tiga kata saja. Sulitkah dikatakan?

Bertahun lamanya aku masih tak percaya bahwa dia telah tiada. Setiap malam aku selalu bermimpi bersamanya. Didalam mimpiku, kami masih remaja muda yang bahagia. Kami tak pernah menua.

Ada yang tertinggal dari perjalanan waktu yang semakin hari semakin menjauh. Kamilah yang tertinggal itu. Kami masih ditempat yang sama, masih remaja, dan masih begitu polosnya.

Bagiku, dia tidak pernah pergi kemanapun. Dia selalu ada setiap kali kurindu. Dia masih manis sebagaimana dulu. Dia masih temanku yang begitu baik.

Didalam mimpi, kami banyak berbicara dan tertawa. Kami selalu ceria. Tak ada kata cinta, dan tak pernah ada keinginan untuk mengatakannya. Rasanya terlalu indah pertemanan itu. Tak perlu kata cintapun, kami sudah saling tahu.

No comments:

Postingan Terbaru

Hey, Kok Sedih? Perlu Sedikit Motivasi Untuk Move On?

Halimahdaily.com - Bukan begini cara menjalani hidup. Membuang banyak waktu dengan bertanya 'apa salahku?'. Tak perlu tanyakan i...

Translate

Post Bottom Ad

Halaman